Our professional Customer Supports waiting for you! Contact now
Everyday: 09:00am - 10:00pm
By Invezto in Trading Insight on 30 Dec, 2025

Bitcoin: Repricing Rapuh & Serangan Balik Makroekonomi

Bitcoin: Repricing Rapuh & Serangan Balik Makroekonomi

Bitcoin Kena 'Prank' $100K: Saat Realita Makro Menampar Mimpi Indah Para Moonboy

Selamat datang di bulan Desember 2025. Di saat para "Laser Eyes" di Twitter sudah siap memesan Lambo karena yakin Bitcoin akan tembus $100.000 sebelum Thanksgiving, pasar justru memberikan hadiah lain: Sebuah tamparan realita yang menyakitkan.

Ya, Bitcoin baru saja gagal menembus dinding psikologis $100k (lagi), dan sekarang sedang terhuyung-huyung di area $87k. Banyak yang bertanya, "Kenapa? Bukankah Trump menang? Bukankah kita akan To The Moon?"

Nah, di sinilah letak masalahnya. Khasay Hashimov dari Investing.com baru saja merilis analisis brutal tentang kondisi Bitcoin saat ini. Intinya sederhana: Pesta euforia politik sudah selesai, dan sekarang "Ibu Kos" bernama Makroekonomi sudah pulang untuk menagih uang sewa. Bitcoin sedang menghadapi fase repricing (penilaian ulang) yang sangat rapuh karena kekuatan pasar obligasi global kembali mengambil alih kendali.

Artikel ini bukan untuk menakut-nakuti (oke, mungkin sedikit), tapi untuk membangunkanmu dari mimpi basah "Up Only". Mari kita bedah kenapa Bitcoin sedang dalam bahaya dan apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.

1. Serangan Mendadak dari Jepang (Ya, Kamu Nggak Salah Baca)

Kamu mungkin berpikir, "Apa hubungannya Bitcoin sama Jepang?" Ternyata, banyak.

Minggu ini dimulai dengan kejutan tidak menyenangkan dari pasar obligasi. Yield (imbal hasil) Obligasi Pemerintah Jepang (JGB) melonjak tajam. Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, memberikan sinyal bahwa mereka siap melakukan normalisasi kebijakan (baca: menaikkan suku bunga).

Kenapa ini bencana buat Bitcoin?

Dunia keuangan itu saling terhubung lewat strategi yang disebut Carry Trade. Investor meminjam uang Yen yang murah (bunga rendah) untuk membeli aset berisiko yang memberikan hasil tinggi, seperti Bitcoin. Ketika yield Jepang naik, biaya pinjaman jadi mahal. Akibatnya? Para trader panik, menutup posisi utang mereka, dan menjual aset berisiko (Bitcoin) untuk membayar Yen.

Inilah yang memicu likuidasi berantai. Bitcoin sempat tergelincir ke arah $86.576 karena lebih dari $500 juta posisi leveraged long (beli dengan utang) dilikuidasi paksa. Ini bukan penjualan karena fundamental Bitcoin jelek, ini adalah penjualan mekanis karena margin call.

2. Fondasi yang Rapuh: Hype vs Realita

Penurunan terbaru ini bukan sekadar "koreksi sehat" atau jeda napas. Ini mencerminkan penilaian ulang (reassessment) yang lebih dalam terhadap kondisi likuiditas global.

Kenaikan harga Bitcoin belakangan ini ternyata sangat bergantung pada leverage (utang), bukan permintaan spot organik (beli tunai). Buktinya? Begitu harga turun sedikit karena isu makro, terjadi efek domino likuidasi yang memperparah penurunan.

Institusi Mulai "Pelit"?

Ingat narasi bahwa ETF akan menyelamatkan kita semua? Nah, data terbaru menunjukkan arus masuk (inflow) ke ETF Bitcoin mulai melambat. Pembeli yang biasanya sigap "buy the dip" (beli saat turun) sekarang terlihat ragu-ragu. Tanpa aliran dana segar dari institusi, Bitcoin menjadi sangat sensitif terhadap sentimen makro, sekecil apapun itu.

3. The Fed dan Data Ekonomi AS: Wasit Penentu Nasib

Sekarang, nasib Bitcoin ada di tangan data ekonomi Amerika Serikat yang akan rilis minggu ini. Indikator tenaga kerja dan aktivitas ekonomi akan menentukan langkah The Fed selanjutnya.

  • Skenario Surga (Bullish): Data ekonomi AS keluar "lemah" (softer data). Ini akan membuat The Fed punya alasan untuk memangkas suku bunga. Yield obligasi AS turun, Dolar melemah, dan Bitcoin bisa bernapas lega serta mencoba naik lagi.
  • Skenario Neraka (Bearish): Data ekonomi keluar "kuat". Yield obligasi AS tetap tinggi. Ini akan memperkuat nada risk-off yang sudah dimulai oleh Jepang. Dalam skenario ini, Bitcoin sangat rentan terhadap deleveraging (penjualan aset untuk bayar utang) lebih lanjut.

4. Kesimpulan: Jangan Jadi Pahlawan Kesiangan

Pasar saat ini ibarat berjalan di atas kulit telur. Kenaikan JGB Jepang telah mengekspos betapa rapuhnya posisi Bitcoin yang dibangun di atas leverage. Likuiditas menipis, volatilitas meningkat, dan harga bergerak mengikuti kurva yield global, bukan karena berita kripto.

Bagi kamu yang ingin masuk pasar (tactical positioning), perhatikan hubungan antara Yield dan Arus Dana (Flows). Rebound yang berkelanjutan hanya akan terjadi jika:

  1. Data ekonomi AS menunjukkan pelemahan (dovish shift).
  2. Ada bukti jelas bahwa ETF kembali diborong institusi.

Tanpa salah satu dari dua hal di atas, Bitcoin masih berisiko jatuh ke lubang likuiditas. Mengambil posisi Long (beli) jangka pendek saat ini hanya masuk akal jika kondisi makro mereda. Jika tidak, risiko terbesarnya adalah tekanan yield yang terus berlanjut dan menyeret harga lebih dalam.


Bingung Baca Data Makro & Yield?

Membaca grafik Bitcoin itu gampang, tapi membaca dampak kebijakan Bank Sentral Jepang terhadap portofolio kriptomu? Itu level berbeda. Jangan biarkan ketidaktahuan makroekonomi menghancurkan aset digitalmu.

Berhenti menebak, mulailah berstrategi dengan data global.

👉 Follow akun social media INVEZTO sekarang juga! Kami menerjemahkan bahasa "alien" bank sentral menjadi sinyal trading yang bisa kamu pahami. Dapatkan update harian tentang kemana arah uang pintar bergerak. Klik follow sebelum portofoliomu kena likuidasi!

You may also like

Related posts