
Pasar kripto kembali melesat dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin (BTC) naik tajam setelah data inflasi produsen Amerika Serikat (AS) atau Producer Price Index (PPI) dirilis jauh lebih rendah dari perkiraan, memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data Coinmarketcap, Kamis (11/9/2025) pukul 06.10 WIB:
Harga Bitcoin meroket setelah data PPI AS untuk Agustus menunjukkan pelemahan signifikan:
Sebelumnya, data tenaga kerja AS sudah memberi kejutan dengan revisi negatif 911 ribu lapangan kerja dalam 12 bulan terakhir. Hal ini makin memperkuat pandangan bahwa The Fed tak bisa lagi menahan pemangkasan suku bunga.
Menurut analis kripto Skew, tren inflasi produsen biasanya tertinggal 1–3 bulan dari inflasi konsumen (CPI). Artinya, CPI mendatang bisa saja masih lebih tinggi, tetapi arah jangka menengah tetap menuju pelemahan inflasi.
Sejumlah analis menilai kondisi ini membuka jalan bagi The Fed untuk memangkas suku bunga lebih cepat, sebuah katalis yang historisnya selalu memicu volatilitas tajam di pasar kripto.
Data CryptoQuant mencatat pola menarik:
Pola serupa terjadi lagi di akhir 2024, ketika siklus pelonggaran moneter dimulai.
Jika tren historis ini berulang, pemangkasan suku bunga pada 2025 bisa memicu gejolak jangka pendek, dengan risiko koreksi volatil. Namun, dalam gambaran besar, kondisi likuiditas longgar akan mendukung Bitcoin untuk kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di bulan-bulan mendatang.
Data PPI yang lebih rendah dari perkiraan semakin mempertegas peluang pemangkasan suku bunga The Fed. Meski volatilitas jangka pendek mungkin masih terjadi, tren jangka menengah hingga panjang justru semakin menguntungkan Bitcoin. Dengan level psikologis US$120 ribu di depan mata, pasar menunggu momen apakah BTC mampu memanfaatkan momentum dan mengulang pola bull run yang pernah terjadi sebelumnya.
Multi-Level Grid Trading M...
Bitcoin: Asia Serves Toxic...
Pasar Forex Curang? ...
Gartley Pattern MQL5: The ...