Our professional Customer Supports waiting for you! Contact now
Everyday: 09:00am - 10:00pm
By Invezto in Trading Insight on 28 Nov, 2025

Penyakit Trader Miskin: Kenapa Anda Wajib Berhenti 'Ngepoin' Profit Orang Lain

Parafrase Artikel Psikologi Trading

Penyakit Trader Miskin: Kenapa Anda Wajib Berhenti 'Ngepoin' Profit Orang Lain

Coba kita jujur-jujuran. Apa hal pertama yang Anda lakukan saat sedang galau karena rugi trading? Buka Instagram. Buka forum trading. Buka grup Telegram. Apa yang Anda cari? Hiburan? Motivasi? Oh, tentu tidak. Anda mencari pembenaran, atau lebih parah lagi, Anda mencari bahan untuk menyiksa diri sendiri.

Anda melihatnya. Sebuah *screenshot* P/L (Profit/Loss) yang hijaunya lebih menyilaukan dari lampu stadion. Seorang "suhu" pamer profit $10.000 dalam satu malam. Di *story* berikutnya, dia pamer jam tangan baru. Di grup sebelah, seorang anonim membagikan riwayat tradingnya yang (katanya) 100% profit. Jantung Anda berdebar. Tangan Anda berkeringat dingin.

Lalu, Anda melihat ke akun trading Anda sendiri. Minus $50. Minggu lalu baru saja Margin Call. Tiba-tiba, rasa benci, iri, dengki, dan perasaan "gue-kok-bodoh-banget-sih" bercampur aduk jadi satu. Apa reaksi Anda? "Dia bisa, masa gue nggak bisa?! Gue harus balas!" Anda buka platform, Anda pasang lot gajah, Anda masuk pasar tanpa analisa, hanya didorong oleh emosi dan FOMO. Dan... boom! Selamat, Anda baru saja membakar sisa uang Anda demi egomu yang terluka.

Selamat datang di penyakit mental paling umum dan paling mematikan di dunia trading: membandingkan diri sendiri dengan trader lain.

Ini adalah racun. Ini adalah candu yang lebih berbahaya dari apa pun. Dan lucunya, trader *serius*—yang beneran cari makan dari trading, bukan cari panggung—justru tidak punya waktu untuk permainan konyol ini. Mereka terlalu sibuk. Artikel ini adalah tamparan keras untuk Anda. Ini adalah obat detoksifikasi. Mari kita bedah, dengan sarkasme yang penuh kasih, mengapa membandingkan diri adalah tiket satu arah menuju kebangkrutan.


Instagram Adalah Panggung Sandiwara (Dan Anda Penonton Bayarannya)

Hal pertama yang harus Anda tanamkan di otak Anda: Sosial media adalah panggung sandiwara. Semua orang adalah sutradara atas film mereka sendiri. Dan di film itu, mereka *selalu* jadi pahlawan. Mereka *selalu* menang.

Panggung Depan vs. Dapur Berantakan

Ketika Anda melihat "suhu" idola Anda mem-posting profit $10.000, Anda melihat apa? Anda melihat hasil akhirnya. Anda melihat panggung depan yang sudah rapi, disorot lampu, dan diberi musik yang megah. Anda tidak melihat "dapur"-nya.

Anda tidak melihat 25 kali *trade* rugi beruntun yang dia alami minggu lalu. Anda tidak melihat *drawdown* 40% yang hampir membuatnya gila. Anda tidak melihat bagaimana dia begadang sampai jam 3 pagi hanya untuk menganalisa di mana letak kesalahannya. Anda tidak melihat bagaimana dia berdebat dengan pasangannya karena terlalu stres. Anda tidak melihat kerugian $30.000 yang dia alami sebulan sebelumnya, yang (tentu saja) tidak pernah dia posting.

Mereka hanya menunjukkan kemenangan mereka. Mereka menyembunyikan semua kegagalan, keringat, dan darah. Ini disebut "Survivorship Bias". Anda hanya melihat mereka yang "selamat" dan pamer, Anda tidak melihat ribuan lainnya yang "mati" (bangkrut) dalam diam.

Sementara itu, Anda? Anda membandingkan "dapur berantakan" Anda—lengkap dengan emosi yang kacau, kerugian yang nyata, dan kebingungan Anda—dengan "panggung depan" mereka yang palsu. Ini perbandingan yang tidak adil. Ini seperti Anda membandingkan foto *selfie* Anda saat baru bangun tidur (penuh iler dan mata bengkak) dengan foto model di sampul majalah yang sudah diedit 100 kali. Bodoh, bukan?


Setiap Akun Punya Takdirnya Sendiri (Berhenti Menyamakan Diri!)

Masalah terbesar kedua dari membandingkan diri adalah Anda mengabaikan variabel paling penting: KONTEKS. Trading adalah perjalanan yang sangat, sangat personal. Menyalin cara trading orang lain sama seperti Anda memakai resep kacamata orang lain. Dijamin pusing.

1. Modal dan Toleransi Risiko (Si Kaya vs. Si UMR)

Si "Suhu" A pamer profit $1.000. Anda kagum. Anda ingin seperti dia. Tapi Anda lupa bertanya: "Dia trading pakai modal berapa?" Bisa jadi, dia trading dengan modal $100.000. Profit $1.000 itu cuma 1% dari modalnya. Itu adalah manajemen risiko yang SANGAT konservatif dan sehat.

Lalu Anda, dengan modal $500, mencoba meniru dia untuk dapat $1.000. Itu artinya Anda mengejar profit 200% dalam satu kali *trade*! Itu bukan trading, itu judi togel. Anda harus menggunakan *leverage* gila-gilaan dan mempertaruhkan seluruh akun Anda. Dia mengambil risiko yang terukur, Anda melakukan bunuh diri finansial. Beda, kan?

2. Waktu dan Kepribadian (Si Santai vs. Si Gemetaran)

Trader B adalah seorang *scalper*. Dia buka-tutup puluhan posisi dalam sehari. Dia bisa profit $500 dalam 2 jam. Keren? Tentu. Tapi, dia adalah seorang *full-time trader* yang bisa melototi chart 8 jam sehari. Dia punya kepribadian yang tahan stres tingkat dewa dan jari secepat kilat.

Anda? Anda seorang karyawan kantoran. Anda trading curi-curi waktu di sela-sela *meeting* lewat HP. Anda orangnya gampang panik dan gemetaran kalau lihat harga bergerak sedikit. Lalu Anda mencoba meniru gaya *scalping*-nya? Anda hanya akan menambah stres, merusak pekerjaan utama Anda, dan (tentu saja) kehilangan uang Anda. Mungkin "takdir" Anda adalah menjadi *swing trader* yang lebih santai, yang cek chart sehari sekali. Kenapa Anda paksa jadi *scalper* hanya karena iri lihat profit hariannya?

Setiap trader punya DNA-nya sendiri: modal, toleransi risiko, ketersediaan waktu, dan kepribadian. Membandingkan diri Anda dengan DNA orang lain adalah resep pasti untuk frustrasi.


Dosa-Dosa Psikologis Akibat 'Kepo' Akun Orang Lain

Ketika Anda sudah teracuni oleh perbandingan, Anda akan mulai melakukan dosa-dosa trading yang mematikan. Ini adalah efek dominonya.

1. FOMO (Fear Of Missing Out): Si Paling Takut Ketinggalan Pesta

Anda melihat 10 orang di grup pamer profit dari "BUY" XAU/USD (Emas). Anda tidak tahu analisanya. Anda tidak tahu kenapa Emas naik. *Trading plan* Anda sendiri sebenarnya menyuruh Anda "SELL". Tapi karena takut jadi satu-satunya orang yang "ketinggalan pesta", Anda panik. Anda ikut-ikutan "BUY". Anda membeli di harga pucuk, tepat saat para "suhu" itu sedang *take profit*. Harga berbalik arah. Anda rugi. Anda menyalahkan pasar. Padahal yang salah adalah ketakutan bodoh Anda.

2. Revenge Trading: Si Dendam Kesumat "Masa Gue Kalah?"

Ini adalah dosa ego. Anda melihat junior Anda profit $100. Sementara Anda, sang senior, malah rugi $50. Harga diri Anda terluka. "Masa gue kalah sama anak kemarin sore?" Anda kembali ke pasar *bukan* untuk mencari *setup* yang bagus, tapi untuk "balas dendam". Anda *harus* profit lebih besar dari dia HARI INI JUGA. Anda *over-trade*, Anda *over-leverage*. Anda tidak lagi trading berdasarkan logika, Anda trading berdasarkan emosi amarah. Dan kita semua tahu siapa yang selalu menang jika kita melawan pasar dengan emosi: Pasar.

3. Mengabaikan Proses, Mengejar Hasil Instan

Ini yang paling parah. Anda jadi terobsesi dengan "hasil cepat". Anda tidak lagi peduli dengan proses *backtesting* yang membosankan. Anda tidak peduli dengan *trading journal* yang rumit. Anda tidak peduli dengan manajemen risiko yang "bikin kaya-nya lama". Anda mau yang instan! Anda mencari "Holy Grail", Anda membeli robot trading abal-abal, Anda ikut sinyal "VIP" berbayar. Anda melakukan apa saja, kecuali satu hal yang seharusnya Anda lakukan: BELAJAR.


Jadi, Apa yang Dilakukan Trader Serius? (Spoiler: Sangat Membosankan)

Jika trader serius tidak sibuk membandingkan diri, lalu apa yang mereka lakukan? Jawabannya, ironisnya, sangat membosankan. Mereka tidak terlihat "keren" di sosial media. Mereka sibuk bekerja dalam diam.

Satu-Satunya Saingan Mereka: Diri Mereka Sendiri (Versi Kemarin)

Trader profesional hanya punya satu fokus perbandingan: Apakah gue hari ini lebih baik dari gue yang kemarin?

Mereka tidak membuka Instagram. Mereka membuka Trading Journal mereka. Inilah "sosial media" mereka. Mereka mengaudit diri sendiri tanpa ampun:

  • "Kenapa gue rugi di *trade* ini? Oh, ternyata gue melanggar *trading plan*. Gue terlalu serakah. Bodoh. Oke, besok jangan diulangi."
  • "Kenapa gue profit di *trade* ini? Oke, gue 100% ikut aturan. Masuk sesuai sinyal, *Stop Loss* terpasang, *Take Profit* sesuai target. Bagus. Ulangi."
  • "Berapa *win rate* gue bulan ini? Berapa *risk/reward ratio* gue? Apakah sistem gue masih valid di kondisi pasar sekarang?"

Mereka sibuk "berperang" melawan musuh terbesar mereka: kebodohan, keserakahan, dan ketakutan di dalam diri mereka sendiri. Mereka tidak punya waktu untuk peduli apakah Anda profit atau rugi. Mereka terlalu sibuk memastikan *mereka* tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

Mereka Fokus pada "Proses", Bukan "P/L" Acak

Trader amatir terobsesi dengan P/L harian. Trader profesional terobsesi dengan Eksekusi Proses. Mereka tahu bahwa hasil satu *trade* (atau bahkan hasil satu hari) itu bersifat ACAK. Tapi hasil dari 1000 *trade* yang dieksekusi dengan disiplin adalah PASTI.

Tujuan mereka hari ini bukanlah "profit $100". Tujuan mereka adalah "Mengeksekusi 100% *trading plan* gue tanpa cacat." Jika mereka berhasil melakukan itu, mereka "menang", SEKALI PUN hasil *trade*-nya rugi. Jika mereka melanggar aturan dan "tidak sengaja" profit, mereka menganggap itu "kalah", karena mereka baru saja menanam kebiasaan buruk.

Membosankan, bukan? Tidak ada adrenalin. Tidak ada pamer-pamer. Hanya disiplin dan kerja keras yang repetitif. Itulah realitasnya.


Kesimpulan: Tutup Instagram Anda, Buka Trading Journal Anda

Berhenti menyiksa diri sendiri. Berhenti mencari validasi dari profit orang lain. Anda tidak akan pernah bisa mengontrol apa yang orang lain dapatkan. Anda juga tidak akan pernah tahu cerita lengkap di balik kesuksesan (palsu) mereka.

Satu-satunya hal yang bisa Anda kontrol 100% adalah: PROSES ANDA SENDIRI.

Keluarlah dari perlombaan tikus yang tidak akan pernah Anda menangkan. Fokuslah pada satu-satunya perlombaan yang penting: perlombaan melawan diri Anda yang kemarin. Apakah Anda hari ini lebih disiplin? Apakah Anda hari ini lebih sabar? Apakah Anda hari ini belajar sesuatu yang baru?

Jadi, silakan. Lanjutkan *stalking* akun "suhu" idola Anda. Iri-lah dengan mobil baru dan jam tangan mewahnya. Salahkan nasib Anda yang "apes". Sementara Anda sibuk membuang energi mental untuk itu, trader serius di luar sana sedang sibuk... *backtesting*. Menganalisa *chart*. Mengisi *trading journal*. Membosankan, ya? Tapi anehnya, akun mereka terus tumbuh. Akun Anda? Ya... Anda tahu sendiri jawabannya.

Berhenti membandingkan dan mulailah belajar. Kalau Anda mau *insight* trading yang 'nendang' dan jujur apa adanya (bukan pamer-pamer fantasi), yang benar-benar fokus pada proses, psikologi, dan data, Anda tahu harus ke mana. Lirik saja semua akun sosial media INVEZTO. Kami menyajikan realitas yang mungkin pahit, tapi itu satu-satunya obat yang Anda butuhkan.

You may also like

Related posts